The Axolotl
kemampuan regenerasi gila yang bisa menumbuhkan kembali jantung dan otak yang rusak
Kalau kita tersayat kertas, rasanya kadang sudah seperti kiamat kecil, ya kan? Kita sibuk mencari plester, mengoleskan obat luka, dan mungkin sedikit mengeluh tentang betapa rapuhnya tubuh manusia. Tapi, mari kita berimajinasi sejenak. Coba bayangkan kalau kita kehilangan sebuah lengan dalam kecelakaan, lalu beberapa minggu kemudian lengan itu tumbuh lagi. Utuh. Lengkap dengan tulang, otot, dan kuku jarinya. Terdengar seperti fiksi ilmiah yang berlebihan, bukan? Tapi di dasar sebuah danau di Meksiko, ada makhluk bertampang ceria yang melakukan keajaiban ini setiap hari. Mari kita berkenalan dengan axolotl. Seekor salamander air yang wajahnya seolah selalu tersenyum, namun diam-diam menyimpan rahasia paling menakjubkan sekaligus paling gelap dalam sejarah evolusi medis.
Jauh sebelum ilmuwan modern menggunakan mikroskop, peradaban Aztec kuno sudah menyadari keanehan hewan ini. Mereka menamainya axolotl, yang sering diterjemahkan sebagai "anjing air". Dalam mitologi mereka, dewa Xolotl yang sedang ketakutan mengubah dirinya menjadi hewan ini untuk menghindari eksekusi kematian. Menariknya, mitos kuno itu tidak sepenuhnya salah. Axolotl memang punya cara curang yang elegan untuk menghindari kematian biologis. Secara psikologis dan biologis, hewan ini menolak untuk dewasa. Dalam dunia sains, fenomena aneh ini disebut neoteny. Mereka mempertahankan wujud bayi mereka—lengkap dengan insang berbulu merah muda yang menonjol di luar kepala—seumur hidupnya. Tapi teman-teman, bukan wajah imut awet muda ini yang membuat para peneliti di seluruh dunia terobsesi hingga kurang tidur. Ada misteri lain yang jauh melampaui logika dasar kita.
Kita mungkin sudah biasa melihat cicak yang memutuskan ekor lalu menumbuhkannya kembali. Itu trik bertahan hidup yang keren. Tapi percayalah, trik cicak itu hanya kelas amatir jika dibandingkan dengan axolotl. Mari kita uji batas akal sehat kita bersama-sama. Jika kaki salamander ini dipotong, ia tumbuh lagi. Lalu, bagaimana kalau organ dalamnya yang dihancurkan? Ginjal, ovarium, atau bahkan sebagian dari jantungnya? Secara luar biasa, organ-organ vital itu akan kembali utuh. Sempurna, tanpa bekas luka sama sekali. Pertanyaan besarnya kemudian muncul dan sempat membuat dunia sains terdiam: bagaimana jika bagian dari otak mereka yang dipotong? Otak adalah pusat kendali saraf yang luar biasa rumit. Mungkinkah sebuah makhluk menumbuhkan kembali jaringan saraf pusat yang telah hancur, mengingat kembali fungsinya, dan tetap menjadi dirinya sendiri?
Jawabannya adalah: ya, mereka sangat bisa. Dan di sinilah sains keras (hard science) masuk dan membuat kita menyadari betapa ajaibnya biologi itu. Ketika tubuh manusia terluka, sel imun kita yang bernama macrophage akan datang menyerbu lokasi luka. Tujuannya satu: tutup luka itu secepatnya dengan jaringan parut atau bekas luka. Jaringan parut ini memang bagus untuk menghentikan pendarahan dan mencegah infeksi, tapi ia adalah musuh utama regenerasi. Nah, pada axolotl, macrophage mereka bekerja dengan cara yang benar-benar kebalikannya. Alih-alih membuat bekas luka, sel-sel ini memberikan instruksi biokimia ke tubuh untuk memutarbalikkan waktu. Sel-sel di sekitar luka akan melupakan identitas lamanya, kembali ke wujud polos seperti sel punca (stem cells), dan membentuk gumpalan yang disebut blastema. Dari blastema inilah sel-sel tersebut berdiskusi ulang. Membangun kembali cetak biru tubuh. Mereka menciptakan tulang baru, pembuluh darah baru, dan ajaibnya, menumbuhkan kembali separuh otak yang hilang lengkap dengan ribuan sinapsis saraf yang menyambung sempurna.
Penemuan gila ini tentu bukan sekadar untuk pamer kehebatan alam semata. Para ilmuwan saat ini sedang berpacu memetakan genom axolotl—yang ukuran DNA-nya ternyata sepuluh kali lipat lebih besar dari genom manusia. Harapannya jelas, suatu hari nanti kita mungkin bisa "menyalakan" mode regenerasi ini di tubuh manusia. Bayangkan harapan hidup yang bisa kita berikan untuk pasien gagal jantung atau penderita kerusakan otak dan saraf tulang belakang. Namun teman-teman, ada sebuah paradoks yang menyedihkan dari kisah ini. Makhluk yang bisa menyembuhkan dirinya dari segala macam luka fatal ini, ternyata sangat rapuh saat menghadapi umat manusia. Di habitat aslinya di Danau Xochimilco, axolotl kini berada di ambang kepunahan mutlak akibat polusi air dan invasi spesies asing. Rasanya ini tamparan psikologis yang sangat keras untuk kita renungkan. Hewan yang memegang kunci rahasia keabadian medis ini justru sedang sekarat di alam liar. Mungkin, sebelum kita sibuk bermimpi menggunakan keajaiban mereka untuk menyelamatkan nyawa kita sendiri, kita harus belajar berempati dan memikirkan cara untuk menyelamatkan mereka terlebih dahulu.